Tausiyah Hari Raya Idul Fitri 1437 H Ketum DPP LDII

Ketua umum dpp ldii abdullah syam

MENYAMBUT HARI RAYA ‘IEDUL-FITRI
Oleh: Prof. Dr. Ir .KH. Abdullah Syam, MSc.
Ketua Umum DPP LDII

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله ِوَبَرَكَاتُهُ

Di penghujung Ramadhan kita bisa mencermati firman Allah yang termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 185:

…َ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

… dan hendaklah kamu menyempurnakan hitungan puasa serta hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah atas hidayah-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Kita bisa berpuasa, sebagaimana kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, tiada lain karena hidayah dari Allah. Untuk itulah maka kita mengumandangkan takbir. Sebagai ungkapan syukur atas hidayah Allah. Kita telah berusaha untuk bisa sukses berpuasa. Puasa yang sukses bukan hanya sekedar tidak makan tidak minum. Karena Rasulullah SAW bersabda:

(مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّور وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّه حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخارى

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan bohong, perkataan dan perbuatan dosa, maka Allah tidak berkenan untuk menilai puasanya sekalipun dia sudah tidak makan tidak minum.

Untuk puasa yang sukses, setelah tidak makan tidak minum, wajib disertai dengan menahan mulut dari ghibah, caci maki dan provokasi, menahan semua panca indra dari perbuatan dosa. Tanpa disertai dengan mengontrol perkataan dan perbuatan maka puasa kita tidak akan ada nilainya di sisi Allah, hanya sekedar mendapat lapar dan haus saja.
Kita telah berusaha untuk mengerjakan qiyamul-lail setiap malam selama Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:

(مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخارى

“Barangsiapa yang shalat di malam-malam Ramadhan dengan didasari iman dan ihtisab, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. Namun kita juga harus ingat bahwa sebelum Rasulullah SAW menganjurkan
shalat malam, beliau terlebih dahulu mengingatkan kita pada ibadah sosial:

أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُواالطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاس ُنِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Sebarkanlah salam, wujudkan kerukunan dan kedamaian. Berikanlah makanan dan santunan serta bantuan kepada pihak-pihak yang perlu disantuni dan dibantu. Sambunglah kefamilian atau silaturahim. Baru kemudian shalatlah di waktu malam di saat kebanyakan orang sedang pulas tidur. Itulah jalan agar kalian bisa masuk sorga dengan selamat. (HR Ibnu Majah).

Selama Ramadhan kita telah berusaha untuk memperbanyak membaca atau malah mengkhatamkan Al-Quran. Setiap huruf Al-Quran yang kita baca akan menjadi pahala jika kita lakukan dengan hati yang ikhlas. Tapi jangan berhenti di membaca atau menghapal. Karena Al-Quran adalah pedoman untuk diamalkan menjadi akhlak dan karya nyata sebagai kontribusi kita dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamiin. Pembaca atau penghapal Al-Quran harus tampil sebagai orang-orang yang berakhlaqul-karimah, tutur katanya sopan, prilakunya santun, dan punya etos kerja yang kuat, berusaha untuk bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada belas kasih orang lain.

Di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan kita telah berusaha untuk merebut hikmah lailatul-qadar, satu malam yang nilai ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda:

(تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِالأَوَاخِر مِنْ رَمَضَانِ. (رواه مسلم

Carilah malam Qadar di tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir dari Ramadhan. Dan di akhir Ramadhan kita telah melaksanakan zakat fitrah, suatu kewajiban yang terkena kepada setiap muslim, pria maupun wanita, tua maupun muda, hamba sahaya maupun orang merdeka. Zakat fitrah anak-anak tentu menjadi tanggungan orangtua atau walinya. Sedangkan zakat fitrah para hamba sahaya adalah tanggungan majikannya.

Sebagaimana puasa Ramadhan itu diwajibkan la’allakum tattaquun, agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa, maka dalam memasuki iedul-fitri mudah-mudahan kita bisa tergolong orang yang telah bertambah
ketaqwaannya. Sebagaimana sebuah pepatah Arab mengatakan:

ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن تقواه تزيد

Laisal-‘iid liman labisal-jadiid, walaakinnal-‘iid liman taqwaahu taziid. Hakikat hari raya bukan karena baju baru, tapi hakikat hari raya didapat oleh orang-orang yang ketaqwaannya telah bertambah. Ketaqwaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh shalat dan atau puasanya. Ketaqwaan juga ditentukan oleh sejauh mana orang bisa bersabar mengendalikan emosi dan berlapang hati untuk memaafkan orang lain. Sebagaimana Allah berfirman dalam surah ‘Ali Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang bertaqwa adalah orang-orang yang selalu berinfaq baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang bisa mengendalikan rasa marahnya dan mau mema’afkan kesalahan orang lain. Alangkah egoisnya kita, jika setiap hari kita memohon kepada Alloh agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita sementara kita tidak mau memaafkan kepada sesama. Sebagaimana alangkah egoisnya kita, jika setiap hari kita memohon kepada Alloh agar Alloh menolong kita sementara kita tidak tergerak untuk menolong sesama. Padahal Rasulullah SAW menyabdakan sebagaimana riwayat Muslim:

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Sesungguhnya Allah akan menolong hamba-Nya selagi si hamba tersebut menolong saudaranya”. Mudah-mudahan kita bisa melanjutkan nilai-nilai baik Ramadhan di bulan-bulan selanjutnya. Mudah-mudahan kita bisa semakin sabar. Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang jujur dan amanah. Mudah-mudahan kita semakin peduli dengan nasib para dhuafa. Mudah-mudahan kita bisa menjaga perkataan maupun perbuatan kita dari dosa dan maksiat. Mudah-mudahan kita bisa mencapai husnul-khotimah.

Mudah-mudahan Alloh menerima segala amal ibadah kita.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِناَّ وَ مِنْكُمْ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

One Comment on “Tausiyah Hari Raya Idul Fitri 1437 H Ketum DPP LDII”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *