Rakernas MUI 2013 | Prof. Dien Syamsudin : “Umat Islam harus bersatu”.

RAKERNAS MUI-DIEN SYAMSUDIN

Rakernas MUI 2013

Prof. Dien Syamsudin : “Umat Islam harus bersatu”.

Umat Islam harus Mampu Menggalang Kekuatan dan Kebersatuan yang Utuh Tanpa Terpecah Satu Sama Lain

RAKERNAS MUI-DIEN SYAMSUDINJakarta – Wakil Ketua Umum Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof. Dr. H. Dien Syamsuddin minta MUI harus mampu menjadikan Islam dan umat Islam sebagai kekuatan penentu, minimal kekuatan efektif di Indonesia. “Hal itu harus dilakukan MUI ke depan, suka atau tidak suka. Kalau tidak jadi penentu, ya, minimal menjadi faktor efektif bagi proses perubahan di Indonesia. MUI harus siap menghadapi masalah dengan pendekatan yang tepat dan jitu. Dan untuk itu, kata kunci penentu adalah strategi,” tegasnya ketika memberikan pidato mewakili Ketua Umum Pengurus MUI Pusat Dr. KH. Ahmad Sahal Mahfudz, pada acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI di Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat, Jum’at (13/9) malam.

Ketua Umum Kiai Sahal berhalangan hadir karena terganggu kesehatan. Rakernas yang akan berlangsung hingga Minggu (15/9) itu dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Agama RI Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA mewakili Menteri Agama RI Dr. H. Suryadharma Ali, M.Si. Menurut Ketua panitia Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, yang juga Wakil Sekjen Pengurus MUI Pusat, Rakernas diikuti pengurus MUI pusat, pengurus MUI tingkat provinsi, pengamat dan pemerhati.

Dikemukakan Dien, perubahan dunia pada tiga bidang kehidupan yakni liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik dan liberalisasi budaya sudah terjadi dalam dua dasawarsa terakhir ini. Dan Indonesia mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi perubahan itu. MUI juga perlu waspada sekaligus mampu melihat berbagai persoalan tersebut dengan lebih cermat dan matang. Sehingga kinerja organisasi MUI, tidak bisa diselesaikan hanya melalui teknik-teknik organisasi yg mapan dan bekerja, melainkan juga harus diletakkan pada konteks perubahan yg terjadi dalam dunia global itu.

Perubahan pada tatanan ekonomi yang menyebabkan terjadinya liberalisasi ekonomi, menurut Dien memunculkan kekuatan ekonomi baru dengan lahirnya kekuatan yang bertumpu pada nilai uang. Sehingga keuangan menjadi sangat berkuasa dan semua persoalan lalu harus dinilai dengan uang. Dalam dunia politik, juga terjadinya perubahan liberalisasi bidang politik. Sistem pemilihan langsung misalnya, baik di tingkat pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun pemilihan  presiden melahirkan dampak-dampak tertentu seperti rapuhnya soliditas, baik di internal maupun eksternal partai politik. “Bahkan, bukan hanya di dunia politik, melainkan juga merambah pada retaknya komunikasi internal organisasi massa keagamaan,” katanya.

Dien mencontohkan bagaimana Pilkada di daerah-daerah seperti Jawa Timur, telah memporak porandakan keutuhan dan kekompakan internal Nahdlatul Ulama (NU). Begitu juga dalam kasus-kasus yang berdampak pada terpecahnya internal Ormas seperti Muhammadiyah dan lain-lain. “Ini dampak-dampak pahit yang harus ditanggung akibat perubahan yang terjadi dengan sangat cepat itu. Ditambah dengan kekuatan uang dan media, menyebabkan seseorang bisa tinggi elektabilitasnya. Tokoh Islam lalu jadi tidak mampu menjadi kekuatan apapun di Indonesia,” ungkapnya.

Selanjutnya dikemukakan, dalam perubahan bidang budaya menyebabkan terjadinya liberalisasi budaya. Sehingga menyebabkan Indonesia sangat terbuka. Dengan mudahnya budaya luar masuk ke Indonesia, menyebabkan generasi penerus bangsa menjadi semakin rapuh. Generasi muda kita, misalnya, cenderung mengidolakan hasil-hasil budaya luar. Akibatnya mereka seolah kehilangan identitas diri. Kondisi ini sungguh sangat nestapa,” keluhnya.

Karena itu, dalam cara menyelesaikan masalah, MUI sekarang harus berbeda dengan masa lampau. Begitu pula, Ormas-Ormas Islam saat ini pun harus berubah dibanding dengan masa lampau. “Azzamanu istadaro. Jaman itu berputar. Berkelanjutan dengan perubahan. Hal ini yang harus disikapi dengan cara almuhafadzotu ‘alal qodimis sholeh wal akhdzu biljadidil ashlah (memelihara sesuatu yang lama yang masih baik, dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik). Atau bisa-bisa sekarang justeru al-ijad biljadidil ashlah (mengadakan sesuatu yang baru yang lebih baik),” ujarnya.

Dien berharap agar MUI mampu menghadapi berbagai perubahan itu dengan berbagai strategi perubahan yang canggih. MUI harus mampu berhadapan dengan berbagai perubahan itu. Kita sudah tahu semua betapa pihak-pihak tertentu telah berhasil menghancurkan ekonomi dan budaya Islam.  “Perubahan bidang ekonomi dunia, tidak hanya mampu merobohkan penguasaan ekonomi di tangan kaum muslim, melainkan juga merobohkan surau dan pendidikan informal kita. Dulu, pusat perekonomian di Indonesia dikuasai oleh santri. Sekarang , semua itu sudah roboh dan runtuh.  Hal itu juga menyebabkan perubahan dalam budaya umat Islam. Yang dulunya tangan di atas, kini menjadi tangan di bawah. Sekarang tidak lagi memberi, melainkan menerima. Sekarang, tidak lagi melayani, tetapi dilayani,” kata Dien Syamsuddin yang juga Ketua PP Muhammadiyah itu.

Karena itu, Dien sekali lagi minta agar MUI ke depan berani menghadapi secara langsung dengan aneka strategi perubahan yang mampu menghancurkan kekuatan perubahan dunia itu. Dakwah Islamiyah hrs betul-betul mengajak dan hadir. “Karena itu MUI harus punya peta dakwah. Kalau peta dakwah belum rampung, maka dakwah selalu hiruk pikuk, sporadis tanpa arah yang jelas. Dakwah lalu tidak diletakkan sesuai kondisi obyektif  maka wajar jika sistem dakwah selama ini tidak pernah mengarah pada pembentukan akhlak bangsa,” katanya.

Menurut Dien, ekonomi syariah juga harus didorong untuk kebangkitan umat Islam dengan menanamkan etos kewirausahaan. Sehingga lahir para pengusaha muda muslim yang handal dan mampu menciptakan kemegahan dunia di kalangan umat Islam sendiri. “Sekarang, dimana pusat islam? Kita harus mampu menggalang kekuatan dan kebersatuan yang utuh tanpa terpecah satu sama lain. Umat Islam harus bersatu. Pasti kita akan kokoh dan kuat. Nilai keislaman itu lebih tinggi dari konfucuisme di China dan protestanisme yang membangkitkan negara Barat. Syaratnya hanya satu yaitu kebersamaan dan kekompakan. Ini kata kunci dari semua itu,” tegas Dien Syamsuddin.

“Seluruh kekuatan Ormas Islam harus membuat koalisi atas dasar taqwa, bukan koalisi basa basi. Untuk peningkatan kinerja, susun program unggulan dengan nilai dasar saling menolong atas kebaikan dan taqwa dan bukan dengan cara kebencian dan permusuhan. Persatuan dan kebersamaan, inilah syarat penaggulangan umat dan syarat kebangkitan Islam di Indonesia,” demikian Dien Syamsuddin. (Qr)

Sumber : http://mui.or.id/mui/berita/berita-singkat/rakernas-mui-dibuka-dien-minta-mui-jadikan-islam-sebagai-kekuatan-penentu-di-indonesia.html by Quriesh Medore

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

One Comment on “Rakernas MUI 2013 | Prof. Dien Syamsudin : “Umat Islam harus bersatu”.”

  1. This site was… how do I say it? Relevant!!
    Finally I have found something that helped me. Thanks a lot!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *